Senin, 16 November 2009

Introduction

Berbicara mengenai musik berarti berbicara mengenai perasaan, dan berbicara mengenai perasaan berarti berbicara mengenai kejujuran, musik berarti ungkapan atau ekspresi ketulusan dalam mengartikan atau memahami sesuatu hal. Bermain musik berarti memperdengarkan apa yang ingin kita sampaikan atau apa yang ingin kita ungkapkan kepada orang lain, dan bukan memperdengarkan apa yang orang lain ingin dengarkan. Musik yang keluar dari hati adalah musik yang tidak di intervensi atau dibatasi oleh hal – hal yang bersifat populis seperti mainstream yang sedang trend atau pun kesesuaian terhadap tatanan sosial dimasyarakat, karena justru musik bisa berisi kritik terhadap hal –hal tersebut dan bertolak belakang dengan mainstream yang ada. Kita tidak bisa mengkategorikan bagus atau tidaknya suatu musik berdasarkan jenis musik tertentu, karena hal tersebut bersifat relatif dan setiap orang mempunyai cara yang berbeda – beda mengungkapkan perasaannya dalam bermain musik.
Tidak tereksposenya beberapa aliran atau jenis musik di Indonesia tidak terlepas dari peran produser dan recording company yang terlalu takut untuk mengorbitkan band – band atau penyanyi dengan aliran yang berbeda dengan mainstream musik yang sedang terjadi dimasyarakat dengan pertimbangan profitabilitas dan alasan finansial, sehingga menciptakan kejenuhan dan stagnansi dalam musik yang sebenarnya kaya akan kreatifitas dan ide – ide yang bagus. Contohnya kita tidak pernah melihat grup band Punk ataupun Grindcore yang menjadi pemenang ataupun hanya menjadi nominasi dalam acara – acara Music Award di Indonesia. Apakah jenis musik tersebut tidak bagus? Jawabannya bukan pada bagus atau tidak, karena setiap orang pasti menyukai sesuatu yang indah atau bagus dan tidak menyukai sesuatu yang jelek, bila kita menganggap jenis musik Punk atau Grindcore jelek, faktanya band – band yang mengusung aliran ini di Indonesia jumlahnya tidak sedikit dan ini berarti tidak semua orang menganggap jenis musik ini jelek karena ada sebagian orang yang menganggapnya bagus.
Jadi hal ini lebih bersifat kepada pluralisme dan relativitas dalam memandang musik sebagai bagian dari cara kita berinteraksi dan bereaksi terhadap sesuatu hal. Mengungkapkan emosi dan pikiran dengan cara yang berbeda - beda namun dalam lingkup yang positif, itulah keindahan yang kita dapatkan dalam bermusik.

Latar Belakang Berdirinya NATIVE

Sebenarnya Native adalah side project dari drummer (toto) dan Bassist (ade) dari band Adhellewise. Band ini berasal dari Cilimus dan berdiri pada akhir 2002, materi lagu pada mini album “Tersakiti” ini selesai di rekam pada bulan September 2008 yang lalu dan beberapa lagu yang ada pada mini album “Tersakiti” ini sempat di rilis pada mini album sebelumnya. Berhubung personil dari Native hanya berdua kekurangan posisi pernah diisi oleh beberapa additional player dan formasi dari band ini sudah beberapa kali berubah, pada formasi awal Drummer diisi oleh Asep, bass diisi oleh Ade, dan pada gitar/vocal oleh Toto. Formasi berikutnya Drummer diisi oleh Ade, bass diisi oleh Agus, dan gitar/vocal oleh Toto. Karena sering terjadi pergantian personil membuat Native sempat vacum beberapa saat.
Untuk saat ini personil dari Native berubah hanya berdua, Ade dan Toto berusaha membuat mini album “Tersakiti” untuk mempertahankan eksistensi Native sebagai salah satu band lokal Kuningan.
Usaha keras Native untuk berkarya tidak selalu berjalan mulus, di mini album “Tersakiti” ini ada beberapa lagu Native yang di curi oleh salah seorang teman yang tidak bertanggung jawab, salah satunya lagu yang berjudul LINDA dan AKU PERGI.
Sebenarnya sejak tahun 2001 para personil Native sudah menggeluti bidang musik dan pernah bergabung dengan beberapa band – band lokal di Kuningan yang bergenre Seattle Sound / grunge. kami berterima kasih kepada teman – teman dan saudara se-idieologi yang telah mengenalkan kami pada musik, dimana musik bisa merubah hidup dan pandangan hidup seseorang.

Motto kami
Stay Away From Drugs, and DIY (Do It Yourself).